Susuri Kemegahan Masjid Gedhe Kauman 07/10/2006 12:51
Masjid Gedhe Kauman merupakan sebuah rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dengan Kraton Jogja sebagai kerajaan Islam hasil perundingan Giyanti pada tahun 1755. Berdiri di tahun 1773, Masjid Gedhe Kauman merupakan masjid tertua yang dibangun oleh Kerajaan Islam Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sebagai satu-satunya masjid raya di Indonesia yang berdiri sebelum abad ke-20, Masjid Gedhe menyimpan begitu banyak potensi sejarah di dalamnya. Bangunannya yang luas dan megah serta kental dengan budaya kraton menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi para wisatawan, baik lokal maupun asing. Terletak di Kampung Kauman, Kecamatan Gondomanan, Kota Jogja atau persisnya di sebelah barat Alun-alun Utara, masjid gedhe menawarkan kemegahan dan keunikan arsitektur budaya Islam Jawa dengan ornament berlapis emas.
Beratap tumpang tiga dengan mustaka menggambarkan daun kluwih dan gadha yang memiliki makna pencapaian kesempurnaan hidup melalui tiga tahapan kehidupan manusia yaitu Hakekat, Syari'at, dan Ma'rifat, Masjid Gedhe masa sekarang tentu telah mengalami beberapa perubahan dari bentuk aslinya dulu. Bangunan serambi kini menjadi dua kali lipat lebih luas dan lebih megah bahkan dibandingkan dengan ruang utama masjid. Gempa yang terjadi pada tahun 1867 merubuhkan serambi asli, dan lantas serambi Masjid Gedhe diperbaharui dengan menggunakan material yang sebenarnya khusus diperuntukkan bagi bangunan kraton. Selain itu, lantai dasar masjid yang dulunya dari batu kali pun kini telah diganti dengan marmer dari Italia. Keunikan lain yang terdapat di masjid ini adalah penyusunan batu kali putih sebagai dinding masjid tanpa menggunakan semen atau bahan perekat lain dan penggunaan kayu jati utuh yang telah berusia ratusan tahun sebagai penopang bangunan masjid.
Kompleks Masjid Gedhe sendiri terdiri dari masjid induk dengan satu ruang inti sebagai tempat untuk beribadah sholat yang dilengkapi oleh pangimaman atau mihrab, yaitu tempat imam memimpin sholat. Di samping kiri belakang mihrab terdapat maksura yang terbuat dari kayu jati bujur sangkar dengan lantai marmer yang lebih tinggi serta dilengkapi dengan tombak. Maksura dimaksudkan sebagai tempat pengamanan raja apabila sultan berkenan sholat berjamaah di Masjid Gedhe. Di samping kanan mihrab terdapat Mimbar yang berbentuk seperti singgasana berundak sebagai tempat bagi khotib dalam menyampaikan khotbah Jumat. Mimbar dibuat dari kayu jati berhiaskan ukiran indah berbentuk ornament stilir tumbuh-tumbuhan dan bunga di prada emas.

Selain ruang inti masjid induk juga dilengkapi dengan berbagai ruangan yang memiliki fungsi berbeda, seperti pawestren (tempat khusus bagi jamaah putri), yakihun (ruang khusus peristirahatan para ulama, khotib, dan merbot), blumbang (kolam), dan tentu saja serambi masjid. Bagian lain dari kompleks Masjid Gedhe pada masa sekarang adalah KUA, kantor Takmir, Pagongan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan gamelan Sekaten, Pajagan yang dulunya digunakan sebagai tempat prajurit kraton berjaga dan terletak memanjang di kanan kiri gapura, serta regol atau gapura yang berbentuk Semar Tinandu dan merupakan pintu gerbang utama kompleks masjid.

Tak jauh berbeda dengan masjid atau mushalla pada umumnya, menyambut bulan Ramadhan Masjid Gedhe juga menyiapkan rangkaian acara dan takjilan buka bersama yang tiap harinya dikunjungi hingga 600 orang jamaah. Menurut Julianto Supardi, ketua panitia Ramadhan Masjid Gedhe, bahkan terdapat hari khusus dengan menu spesial. "Setiap hari Kamis kami (panitia-red) khusus menyembelih kambing dan menyediakan Gulai Kambing sebagai menu buka puasa". Jika anda bukan penderita tekanan darah tinggi akut, penulis rasa, menu special tersebut patut untuk dicoba dan jangan lupa untuk membawa kamera jika Anda tidak ingin melewatkan wisata religi dari nilai sejarah serta kemegahan yang unik dari arsitektur masjid tertua di Jogja tersebut. (dee)
 |