Kotagede, Kota Perak Sejak Kerajaan Mataram 14/10/2006 13:55
Kerajinan perak di Kotagede telah berlangsung sejak abad ke 16, tepatnya tahun 1586 M ketika Kotagede masih menjadi ibukota kerajaan Mataram Jogja pada masa pemerintahan Panembahan Senopati. Kotagede pada waktu itu merupakan pusat bagi para pengrajin keris dan perhiasan yang diperuntukkan bagi keluarga Kraton. Seiring dengan berkembangnya waktu, Kotagede saat ini telah menjadi sentra perdagangan perak dan salah satu objek yang berpotensi di Jogja.
Deretan rumah-rumah tanpa halaman dengan papan nama yang menunjukkan toko peraknya menghiasi sisi-sisi jalanan di Kotagede. Jalannya yang tak bisa dikatakan lebar memang rawan kemacetan, terutama pada saat musim liburan. Begitu memasuki Kotagede, suasana yang terasa berbeda dengan bagian lain kota Jogja, terlebih dengan banyaknya cagar budaya di dalamnya. Namun, selain menikmati pemandangan bangunan-bangunan tua, pengunjung bisa bebas berbelanja perak. Maklum, hampir kemanapun mata memandang, dapat terlihat toko yang menjual perak.
Perak memang menjadi mata pencaharian terbesar bagi masyarakat Kotagede. Entah itu sebagai pengrajin, pemilik toko, maupun sebagai suplier bagi kemasan perak yang siap dipasarkan. Para pengrajin perak itu memulai usahanya dari skala kecil atau home industri hingga akhirnya mampu berkembang dengan pesat dan membawa Kotagede sebagai pusat kerajinan perak terbesar di Jogja. Beberapa nama toko kerajinan perak yang menjadi pioneer sejak tahun 60-an bahkan telah dikenal hingga luar negeri.
Mengenai harga, kerajinan perak yang ditawarkan di Kotagede memang relatif lebih mahal. Bagi sebuah cincin perak asli dengan desain sederhana, misalnya, dipatok harga minimal Rp 50.000,-, sedangkan bagi miniatur perak yang memiliki desain dengan detail serta proses penggarapan yang lebih rumit lagi harga satuan produknya bahkan mampu mencapai angka puluhan juta rupiah. Namun, bagi para pencinta kerajinan perak harga itu menjadi tidak sebanding jika melihat keindahan sebuah hasil karya yang ditawarkan oleh para pengrajin perak di Kotagede.
Sebagian besar disain yang ditawarkan memang telah ditentukan dari toko yang bersangkutan, namun tidak tertutup kemungkinan jika konsumen memiliki keinginan untuk mendisain sendiri kerajinan perak yang diinginkan. Ini disebut dengan order khusus. Menurut Eka Rusdiana, Supervisor Anshor's Silver, cincin dan miniatur perak adalah kerajinan perak yang paling banyak diminati. "Order khusus yang paling sering diminta oleh konsumen antara lain cincin, miniatur, atau liontin. Tapi yang paling banyak diminati adalah cincin, biasanya order khusus untuk sepasang cincin perak," ujar Eka lebih lanjut.
Mengenai harga order khusus jelas dikenakan biaya produksi lebih mahal daripada cincin atau perhiasan lain yang telah tersedia di display kaca. Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Bagaimana, apakah Anda berminat? Mungkin saja Cincin perak dengan desain pribadi ini bisa menjadi salah satu referensi bagi Anda, pasangan yang hendak mengikat hidup berdua, atau sekedar kenang-kenangan dengan keluarga maupun teman dekat. (dee)
 |