Tanda Tanah, Ketika Proses Adalah Segalanya 16/03/2006 10:56
Pameran keramik Tanda Tanah yang diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta 13 - 19 Maret 2006 ini tergolong istimewa dan lain dari biasanya. Jika Anda mengira ruang pameran akan dikuasai oleh hasil karya para seniman muda yang namanya terpampang di spanduk, Anda salah besar. Para perupa ini ternyata malah lebih berperan sebagai kolaborator dan fasilitator bagi para desainer sebenarnya yang mayoritas adalah masyarakat awam.
Adalah Andri "Boy" Kurniawan, Melisa, Iien, Moko dan Rifki, lima orang alumni kriya keramik Institut Seni Indonesia yang resah melihat perkembangan dunia seni keramik yang mereka geluti. Tahun ini, jurusan kriya keramik di ISI kosong karena tidak mendapat mahasiswa baru sama sekali. Dari kenyataan pahit ini akhirnya tercetuslah ide untuk mendekatkan seni keramik pada masyarakat awam. Jadilah mereka mengadakan workshop singkat seni keramik yang hasilnya dipamerkan di BBY ini.
Karena dibuat oleh orang awam, dari ibu-ibu hingga remaja masjid, karya-karya yang ditampilkan menjadi sangat personal dan membawa kesegaran tersendiri. Bahkan, cerita-cerita menarik seputar pembuatan karya ini bisa jadi lebih mempesona daripada hasil karyanya. Misalnya cerita antusisasme para ibu anggota IKAISYO yang dikomandani oleh Melisa ketka membuat perahu-perahu keramik dalam workshop dua harinya. saking semangatnya, mereka tidak cuma menghasilkan berbagai perahu aneka rupa, namun juga berbagai pernik keramik telanjang tanpa glasur yang memenuhi meja pameran.
Karya lain yang cukup menyegarkan adalah presentasi Ikarus yang diperankan oleh muda-mudi sahabat Andri "Boy" Kurniawan. Di depan display langit biru dengan awan-awan berarak, foto-foto warna-warni para perupa amatir ini yang dimontase dengan sayap keramik aneka rupa impian mereka tampak terbang bebas penuh keceriaan.
Memang sekarang nampaknya dunia keramik perlu sayap-sayap baru yang masih kuat untuk mengepak menuju matahari, dan tahan panas tentunya, supaya tidak luruh ke bumi seperti Ikarus yang gagal meraih mimpinya. (ang) |