Ketika Warna-Warni Seni Disatukan 10/05/2006 10:41
“Kenapa harus ada benang merah jika benang yang berwarna-warni dapat disatukan dan menjadi lebih indah?” Itulah pertanyaan sekaligus pernyataan yang diungkapkan Deni Junaedi dalam pembukaan pameran seni rupa “100% Waras ha,ha,ha..” di Bentara Budaya Jogja, Selasa (9/5).
Deni adalah salah satu nama dari kelompok D.A.S yang merupakan singkatan dari nama-nama seniman yang tergabung, yakni Deni Junaedi, Anis Eko Windu, dan Surajiya. Kelompok ini terbentuk dari kebersamaan teman satu jurusan dan satu angkatan di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja.
Pameran "100% Waras ha,ha,ha..." memang tidak seperti pameran seni rupa pada umumnya. Ketiga seniman yang bersatu dalam berbagai warna tersebut bukan hanya menampilkan lukisan mereka tetapi juga karya-karyanya yang lain. Salah satunya adalah Anis Eko Windu yang tertarik dengan animasi. Dalam pameran ini ia juga menyajikan hasil karyanya yang berupa animasi wayang yang diberi judul “Perang Werkudara – Naga Nabatnawang”.
Seniman yang juga mengajar seni lukis di salah satu TK di Jogja ini mengaku memang lebih tertarik dengan animasi. Menurutnya obyek bergerak itu terlihat lebih menarik. Ketika ditanya mengenai objek yang dipilihnya yaitu wayang, ia mengaku ingin turut melestarikan salah satu budaya Jawa ini. Agar generasi muda tetap mengenalnya, ia memanfaatkan animasi sebagai media yang lebih banyak digemari oleh anak jaman sekarang.
Sementara Surajiya yang juga hobi menulis, memanfaatkan momen ini untuk meluncurkan kumpulan cerpen terbarunya “Aku, Istriku, dan Bukan Apel”. Mengenai karya-karyanya, Surajiya mengaku lebih tertarik untuk menulis sesuatu yang berkaitan dengan percintaan. Ini karena cinta adalah sebuah rasa yang sangat dekat dengan dengan kehidupan kita. “Aku dan istriku bisa jadi apel tapi apel tidak bisa menjadi aku dan istriku karena apel tidak mempunyai perasaan, hanya bisa dinikmati,” imbuh seniman yang juga telah menghasilkan berbagai kumpulan puisi ini.
Warna-warni dari ketiga seniman ini bukan hanya terlihat dari karya-karya lain yang mereka tampilkan. Dari lukisan pun mereka tampak memiliki kecenderungan masing-masing. Karya-karya Anis, terlihat mengandung unsur-unsur animasi. Ia mengakui bahwa kegemarannya akan animasi memang sedikit banyak mempengaruhi karyanya. Sementara Deni memajang karya seni pemaknaan (art signification) seperti terlihat dalam lukisan “Tentang Banyak dan Sedikit”. Pameran yang juga berisi lelang buku perkumpulan buletin MAKNA ini akan berlangsung sampai dengan 17 Mei mendatang. (les) |