Ungkapan Suasana Hati dalam Paduan Seni Lukis dan Origami 29/08/2006 12:05
Sebanyak 36 karya lukis yang tertuang dalam berbagai lipatan kertas terpajang rapi di Museum Affandi sejak Sabtu (26/8). Ketika memasuki ruang pameran yang sejuk alami dan berbentuk unik ini pengunjung akan langsung disambut dengan aneka bentuk lukisan, berupa garis dan goresan jarum dalam tiga warna dominan, yakni hitam, putih, dan merah. Di sudut lain, tergantung dua karya berupa tulisan Jepang yakni Kanji dan Hiragana yang mempertegas asal usul sang seniman.
Ialah Jun Sakata (57), seorang seniman asal Jepang yang merupakan keturunan ke-4 dari sebuah keluarga yang menganut Kofu, sebuah aliran seni merangkai bunga yang memberi kebebasan berkreasi. Bunga adalah suatu keindahan yang disediakan alam dan siapapun dapat mengambil serta merangkainya. Namun warnanya sudah paten dan tidak mampu bertahan lama, membuat Jun mencari cara lain untuk membuat karya yang dapat diabadikan.
Dengan tetap bertumpu pada berbagai tumbuhan yang disediakan alam, Jun yang terjun ke dunia instalasi dan lukis sejak tahun 70-an mulai mengolah pohon pisang guna dijadikan kanvas lukisannya. Lembaran yang nampak seperti kertas daur ulang itu ternyata membutuhkan proses panjang dalam pembuatannya. Mula-mula Jun mengambil batang pohon pisang dan memotongnya kecil-kecil untuk kemudian direbus. Setelah diaduk selama kurang lebih 2 jam di atas api, batang pohon yang telah hancur tersebut kemudian disaring dan dijadikan sebuah lembaran kertas dengan proses pengeringan matahari.
Setelah lembaran kertas yang ia olah sendiri tersebut selesai, mulailah Jun menuangkan perasaannya dengan membuat lipatan-lipatan tertentu dan mencorat-coretnya dengan jarum dan crypass (mirip cry-on tapi tanpa minyak). Jadi tidak mengherankan bila akhirnya muncul judul-judul lukisan seperti, Harapan, Kenangan, Kesunyian, dan Sayap, karena perasaan itulah yang ada di hatinya ketika membuat lukisan. Meski demikian lelaki asal Yokohama ini memberi kebebasan pada setiap orang untuk menafsirkan lukisannya.
Proses pembuatan yang cukup lama dan rumit membuat karya-karyanya mempunyai nilai jual yang tak murah. Satu karya yang menghabiskan sekitar 50 crypass ia hargai minimal 11 juta. Karena, selain waktu dan tingkat kerumitannya yang cukup tinggi, bahan ia gunakan pun khusus ia datangkan dari Jepang ke Ubud, tempat di mana selama kurang lebih tiga tahun ini ia membuat karyanya. Ubud ia pilih karena memberikan ketenangan dan udara yang bagus, sehingga ia mampu berkarya dengan total.
Untuk pameran pertama kalinya di Indonesia, Jun memilih museum Affandi yang ada di Jogja karena ia memang menyukai tempat yang unik ini. Pertama melihat ia langsung jatuh cinta dan berangan-angan untuk memamerkan karyanya di sini. Akhirnya berkat kerjasama dengan Rangin Sambaga ia dapat mewujudkan keinginannya dan mengadakan pameran di kota yang menurutnya mempunyai udara yang bagus dan dihuni oleh orang-orang yang ramah ini. Hasil penjualan karyanya akan ia sumbangkan bagi korban gempa 27 Mei.
Pameran ini sendiri akan berlangsung hingga 2 September. Sebelum berakhir, pada hari Jumat (1/9) akan diselenggarakan workshop merangkai bunga. Jadi bagi Anda yang penasaran dan tertarik dengan perpaduan seni lukis dan origami, sangat disayangkan bila melewatkan kesempatan ini. Setelah ini Jun berencana melakukan pameran di Bandung, Jakarta, dan Singapura. (les) |