Yang Berdedikasi, Yang Dihindari 21/10/2007 23:32
Sudah merupakan ketentuan umum bagi para mahasiswa bahwa dosen yang 'enak' dan layak dipilih tiap masa KRS adalah mereka yang kelasnya cepat selesai, tidak banyak tugas, kalau bisa tidak perlu ada ujian atau boleh dibawa pulang, dan yang pasti nilai bagus sangat mudah didapat. Tidaklah mengherankan bahwa beberapa dosen favorit mahasiswa yang memiliki kriteria tersebut biasanya membuka banyak kelas dan masih kurang. Masih terlalu banyak murid yang lebih mengutamakan nilai daripada ilmu.
Rasanya malu sendiri ketika berpikir mengenai hal ini. Berulang kali, aku pun memilih dosen yang 'enak' untuk mata kuliah yang tidak aku sukai. Hasilnya, satu-satunya bekas yang ada dari mata kuliah itu adalah nilai A di laporan IP-ku tanpa sedikitpun aku merasa berhak mendapatkannya. Ini jelas menguntungkan untuk nilai IP Kumulatif, tapi ketika bertemu dengan kelas baru yang kebetulan menggunakan kelas A-kosong tadi sebagai dasarnya, bisa mati kutu!
Ilmu v.s. Nilai
Dua semester yang lalu aku mulai memutuskan untuk lebih serius kuliah. Saat itu, pembagianku dalam pengambilan kelas adalah: satu kelas sulit dengan dosen sulit, tiga kelas yang menarik dengan dosen yang mengajar dengan jelas, satu kelas biasa dengan dosen biasa, dan tiga sisanya dengan dosen yang amat sangat mudah. Hasilnya, dengan sedikit kerja keras di beberapa kelas dan usaha asal hadir di kelas lainnya, IP-ku melonjak menjadi 3,76! Ilmunya? Yah..60% lah..
Ironisnya, satu dosen paling enak di semester itu adalah putra dari satu dosen yang paling 'dihindari'. Dua kelas sang ayah dan anak ini lah yang lalu menyadarkanku menganai perbedaan kelas ilmu dan kelas nilai.
Kelas si dosen anak habis-habisan dipadati peminat! Kelasku yang kuota maksimalnya 30 anak pun terpaksa berpindah ruangan karena banyaknya peminat. Ini lah kelas internasional pertamaku yang isinya lebih dari 40 anak.
Tidak mengherankan, karena dosen ini terkenal selalu memberi nilai A pada setiap murid, ujiannya take-home dan boleh copy-paste satu kelas, absen tidak dibutuhkan, dan lama pelajaran di kelas biasanya hanya 30 menit (padahal kelas ini 3 SKS). Menyenangkan sekali, bukan?!
Ilmu? Nol besar! Biasanya si dosen anak ini hanya masuk kelas sebentar, menjelaskan sedikit slide untuk kami pelajari 'lebih lanjut' di rumah (jelas tidak ada yang mempelajarinya), dan melanjutkan kelas dengan tidak lagi menjelaskan pelajaran melainkan melantur menceritakan anekdot-anekdot lucu. Kalau ada yang benar-benar tidak pernah masuk kelas dan terpaksa mendapat nilai D, bisa mendatangi dosen ini dan minta revisi nilai saat itu juga untuk diubah menjadi B atau lebih! Jelas sekali dia langsung menjadi dosen favorit para mahasiswa! Dan jelas aku tidak membuang kesempatan mendapatkan A yang effortless di mata kuliah yang tidak berhasil menarik minatku ini.
Berbeda dengan kelas si anak yang dipadati peminat, kelas sang bapak jelas jauh dari kata 'dipadati'. Kelas ini hanya berisi 6 anak - pun satu diantaranya melepas kelas ini di perempat semester.
Sang bapak dosen ini biasanya benar-benar memanfaatkan waktu 3 SKS-nya yang berarti kelasnya berdurasi 2,5 jam atau lebih, penjelasan yang sangat jelas hingga terkadang para siswa mulai overload di 1,5 jam pertama (untung boleh minta istirahat sebentar), tugas bacaan berlembar-lembar tiap pertemuan, presentasi individual sampai 3-4 kali per anak tiap semester, dan pemberian nilai yang sangat objektif. Kelasnya berat tapi memang layak dijalani karena ilmunya masuk. Standar sang bapak jelas jauh lebih tinggi daripada anaknya. Desas-desus mengatakan bahwa anak paling pandai di angkatanku pun hanya berhasil mendapatkan nilai C untuk kelas ini. Mengerikan sekali!
Hasil nilainya jelas sekali, di kelas si anak aku mendapatkan nilai A dan di kelas sang bapak aku tidak berhasil mendapatkan A bulat itu. Tapi rasanya berbeda sekali. Di kelas si anak rasanya kosong dan biasa saja sedangkan di kelas sang bapak rasanya sangat penuh ilmu dan penuh kepuasan ketika melihat hasilnya!
Mereka yang Berdedikasi dan yang Kurang
Memikirkan mengenai hal ini membuatku teringat beberapa dosen yang biasa diremehkan atau diejek di belakangnya karena dedikasi mereka pada mata kuliah yang dibawakannya.
Aku merasa bersalah ketika mengingat betapa kesalnya aku bila kelas Indonesian Economy yang dibawakan dengan penuh perasaan dan semangat oleh Pak Dosen yang terlihat sangat mencintai ilmu ini mulai diajarkan selama 2,5 jam. Aku juga merasa aneh ketika mengingat betapa dibencinya salah seorang dosen yang memiliki semangat mengajar tinggi dan selalu memanfaatkan tiap menitnya secara utuh.
Yang belakangan ini paling menyentuh adalah seorang dosen tua berdedikasi yang kemarin mengajarku. Beliau ini seorang yang cukup berumur dan jelas terpelajar. Pengetahuannya sangat luas dan mungkin karena beliau berada bukan di negaranya, dedikasinya terhadap pendidikan dan waktu jelas lebih tinggi. Tidak tanggung-tanggung, tiap pertemuan beliau memberi tugas, kuis, dan evaluasi - yang berlangsung sepanjang 3 jam kuliah dengan 'hanya' 10 menit coffee break.
Kemarin beliau sedang sakit, bahkan untuk menyelesaikan satu kalimat pun beliau pasti akan terhenti oleh batuk dan sesak nafas. Yang menyebalkan adalah bagaimana beberapa orang menertawakan ketika beliau terbatuk di tengah kalimatnya yang selalu berapi-api itu. Rasanya kasihan sekali melihat beliau yang bersemangat ini tidak mendapatkan rasa hormat yang layak didapatnya untuk mencerdaskan anak negeri.
Di sisi lain, mereka yang tidak terlalu mempedulikan ilmu yang akan didapat siswanya mungkin memiliki prioritas lain. Mungkin bagi mereka kecintaan para siswa terhadap kemurahan hati mereka serta antrian panjang di daftar kelas mereka merupakan kebanggan tersendiri. Asalkan para siswa senang, tidaklah penting apakah mereka mengerti sepenuhnya apa yang diajarkan. Tapi mungkin saja pendapat sinis ini tidak benar, bisa saja mereka sebenarnya hanya memenuhi keinginan muridnya akan nilai bagus dengan usaha minim sehingga muridnya bisa lebih berkonsentrasi pada mata kuliah lain, dan itu lah bentuk dedikasi mereka terhadap muridnya.
(ditulis oleh Miy, dreamiy.multiply.com: melalui editing) |