Selamat Hari Natal! 27/12/2005 11:18
"Mele Kalikimaka....Feliz Navidad....Joyeux Noel....Buon Natale....E Finalmente....Merry Christmas...Apapun bahasanya, yang penting Selamat Natal!!!"
Ini adalah salah satu isi sms seorang teman yang dikirimkan kepada saya. Kata-katanya cukup mengesankan, bukan? Yah, meskipun sedikit mengingatkan kita kepada salah satu iklan minuman, yang penting maknanya ketika ucapan itu disampaikan dengan tulus dan kesungguhan hati. Rasanya umat Kristiani patut bersyukur karena Natal tahun ini ternyata bebas dari bom. Menanggapi tulisan Everyday Life yang merasa bahwa ancaman bom mungkin saja mengganggu kemeriahan Natal tahun ini, rasanya tidak berlebihan mengingat negara kita kini sangat trauma dengan ancaman-ancaman demikian.
Di Jogja, benar jika ada yang merasa bahwa kemeriahan Natal tidak terlalu jelas gaungnya, khususnya di ruang publik seperti di mall, toko-toko atau tempat umum yang lain. Namun, lebih dari itu, saya melihat Natal kali ini justru terasa sangat khidmat dengan segala kesederhanaannya. Hal ini sangat pas dengan tema Natal tahun ini, yaitu dengan kesederhanaan Yesus, kita menghidupkan habitus baru. Tema ini menuntun kita, umat Kristiani, agar memiliki kebiasaan baru yang lebih baik. Tema ini bagi saya pribadi sangat mengena, untuk itu saya berbagi. Contohlah saya yang sangat susah bangun pagi setelah mulai kuliah dan bergadang, saya pikir baik adanya jika memulai bangun lebih awal. Sebagai orang Jawa, saya tahu bahwa Falsafah Jawa juga memaknai bangun pagi sebagai upaya meraih rejeki yang lebih baik, jadi tidak ada salahnya dikerjakan.
Berbicara tentang kebiasaan, ketika melihat film-film barat yang kental dengan suasana Natal, saya sebenarnya iri mengapa di sana identik dengan saling memberi kado. Selama 23 tahun merayakan Natal, kebiasaan itu sama sekali tidak pernah diperkenalkan oleh keluarga maupun umat Kristiani lain yang ada di lingkungan sekitar saya. Bodohnya, saya juga tidak bertanya kepada mereka dan juga tidak pernah memulai untuk melakukannya. Tapi baiklah, walau tak menjadi sebuah kebiasaan toh Natal tetap indah. Bukankah intinya adalah berbagi kasih kepada sesama? Saya harap banyak yang setuju dengan pendapat ini.
Well, hari Natal telah berlalu, akan tetapi semangat Natal akan terus terasa di hati setiap orang yang memaknai Natal dengan sungguh-sungguh. Selain itu, Natal boleh saja lewat, tapi jangan lupa, berbagi kasih adalah milik setiap waktu dan setiap orang tanpa memandang suku, agama, dan juga ras. Setuju?
(Titi, warga Jogja)
(foto: capschina.en.ec21.com) |