Sheesha, Rokok Komunal dari Turki 14/03/2007 15:50
Sekelompok mahasiswa berkumpul bersama, duduk dalam satu lingkaran meja di sebuah kafe pada malam hari. Mereka berbicara dan tertawa renyah. Beberapa waktu kemudian, seorang waiter mengantarkan sebuah tabung besar dari kaca. Sekejap, waiter mulai menyalakan api pada bagian bawah tabung tersebut, dan beberapa waktu kemudian, mahasiswa itu saling berebut selang yang ada pada tabung kaca itu. Lalu, secara bergantian, mereka mulai menghirup asap yang keluar dari selang melalui mulut mereka masing-masing, layaknya orang merokok. Samar-samar, tercium aroma buah kiwi di sekitar kumpulan mahasiswa tadi.
Ya, itulah sheesha, yang saat ini sedang menjadi primadona di beberapa kafe di Jogja. Keunikannya, sensasinya, aromanya yang segar, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang lebih-lebih adalah perokok. Sensasi unik, pilihan rasa, dan kenikmatannya inilah, yang tidak bisa ditemukan di rokok atau cerutu. Sheesha, yang berasal dari Turki, mempunyai beberapa sebutan: hookah, sheesha, huka, nargile, atau shishah. Di negri asalnya, sheesha lebih dikenal dengan sebutan hookah, konon sudah ada sejak 500 tahun yang lalu.
Sheesha adalah gaya merokok dengan menggunakan alat tabung dari kaca, dengan beberapa selang sebagai alat penghisap. Untuk bahannya, sheesha menggunakan tembakau yang telah diolah dengan rendaman semacam campuran atau selai buah-buahan. Aroma rasa yang ditawarkan pun sangat bervariasi. Anda tinggal pilih, ada rasa pisang, kiwi, strawberry, melon, apel, mangga, jambu, mix fruit dan lain2. juga ada aroma non buah, yaitu coklat mint, margarita, dan cola.
Ada 4 bagian dari alat sheesha: Agizlik, yaitu selang yang digunakan untuk menyedot sheesha. Lule, yaitu keramik yang terdapat pada bagian paling atas yang digunakan untuk menempatkan tembakau. Marpuc, yaitu tabung yang fungsinya sebagi penetralisir nikotin pada tembakau. Tabung inilah yang nantinya diisi dengan air, juice buah, atau softdrink, atau wine. Yang terakhir adalah Govde, yaitu pipa stainless yang digunakan untuk saluran asap yang dihasilkan.
Merokok sheesha, berawal dari gaya hidup orang-orang Turki yang dalam merokok mereka tidak pernah sendirian, selalu berkelompok. Menurut Franky Yance P, Supervisor House of Camel, sheesha masuk di Jogja, baru sekitar 1 tahun. "Mayoritas pengkonsumsi sheesha datang dari kalangan mahasiswa." Mahasiswa yang banyak datang dari luar Jogja, biasanya sudah pernah mencoba sheesha di kota asalnya, seperti Jakarta dan Bandung yang sudah lebih dulu mengenal sheesha. "Banyak juga orang yang mencoba sheesha karena melihatnya sebagai hal yang unik, dan baru di Jogja," tambah Franky. Satu porsi sheesha yang bertahan selama 1 jam, idealnya dikonsumsi oleh 4 orang saja. Sheesha membuat orang merasa haus. Seperti menikmati rokok, sheesha paling pas dinikmati dengan segelas kopi.
Sinang, mahasiswa Teknik Arsitektur UGM, mengaku senang berkumpul dan ngobrol bersama teman-temannya sambil ditemani sheesha. Hal ini pula diakuinya sudah jadi kebiasaan sebelum mengerjakan tugas bersama teman-temannya di malam hari. Kebiasaan untuk ber-sheesha bersama ini sudah dilakukannya sekitar 6 bulanan, berawal ketika ia baru saja mencoba sheesha di Jakarta , dan baru menemukannya di Jogja.
Sheesha tak hanya bisa dinikmati di kafe-kafe saja. Jika Anda memang menggemari sheesha, bisa saja Anda memindahkan kenikmatannya ke rumah, tentu saja dengan membeli peralatannya terlebih dahulu. "Temanku ada yang punya peralatannya di rumah, tapi nggak tau dia beli dimana. Tapi katanya, ada kafe di Jakal yang menjual peralatan sheesha," ujar Sinang, yg paling suka sheesha rasa mint. Mengenai pilihan tempat untuk sheesha, Sinang lebih memilih tempat yang murah meriah. Agak berbeda dengan Lia, mahasiswi FMIPA Sanata Dharma. "Harga sheesha nggak masalah, yang penting mantap. Saya lebih memilih suasana kafenya," ujar Lia, yang paling suka sheesha rasa chocomint. Untuk membeli sheesha ini Lia patungan dengan beberapa orang temannya. "Mungkin sekalinya, kita bisa habis Rp 150.000,- untuk 6 orang, termasuk untuk beli minum juga, biasanya cocktail," tambahnya.
Dengan Rp 40.000,- - Rp 50.000,-, Anda sudah bisa merasakan kenikmatan menyedot sheesha. Namun di beberapa tempat di Jogja, juga bisa ditemukan sheesha dengan harga jauh di bawahnya. Tapi Anda sangat bisa merasakan perbedaan yang ada antara sheesha murah dan sheesha mahal. Jika Anda memang ingin merasakan sheesha di semua tempat di Jogja, tentunya rasa dan kenikmatan yang diberikan akan berbeda. Sheesha bisa ditemukan di banyak kafe di Jogja, sebut saja House of Camel, Lor Kali, atau Awan Bengi Jakal
Untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih, coba masukkan es batu dalam tabung sheesha, ini akan membuat aroma sheesha semakin segar. Selain itu juga bisa menambahkan wine. Serta cobalah untuk mencampur rasa tembakau yang ada. Misalnya rasa buah-buahan dicampur dengan aroma mint, maka aroma buah akan semakin segar. Selain sensasi dan kenikamatan berbeda yang ditawarkan, ada yang mempercayai sheesha bisa menyembuhkan penyakita asma, dan nikotin yang terkandung dalam sheesha pun hanya 0,01 %. (opi) |