Perkembangan Teknologi Sesuaikan Budaya Masyarakat 23/08/2006 16:50
Kurun waktu ilmu pengetahuan untuk berkembang dan terus melakukan dinamisasi lebih lama daripada umur manusia. Hal tersebut diungkapkan Dr. Hari Purwanto, Deputi Ristek Kementrian Ristek RI, pada acara Workshop Roadmap Penelitian Berbasis Program Studi, yang rencananya diselenggarakan selama 2 hari, pada hari Rabu-Kamis, 23-24 Agustus 2006, pukul 08.30 WIB, di Mini Theatre Gedung D, Kampus Terpadu UMY.
Untuk ilmu pengetahuan yang dipadu dengan teknologi sebagai penyesuaian diri terhadap perkembangan jaman, pada dasarnya harus tetap mencapai tiga hal, yaitu academic excelent, economic/values, dan manfaat sosial. "Tetapi tentu saja ketiga hal tersebut juga harus tetap mengacu pada perkembangan iptek yang diimbangi dengan nilai-nilai agama agar tidak salah kaprah," jelasnya.
Menurut Hari, jika dilihat dari kurun waktu satu tahun ini, perkembangan iptek di dalam negeri mengalami kemunduran. Ditambah lagi dengan dukungan pemerintah yang sangat kurang. Dicontohkannya dengan perbandingan 'modal' yang disediakan untuk pengembangan iptek tersebut. Pemerintah Indonesia hanya menyediakan 0,03% dari APBN yang disediakan. Berbeda dengan negara tetangga Malaysia yang menyediakan sekitar 45% dari APBN yang mereka miliki, apalagi Singapura yang menyediakan 50%.
"Pengembangan teknologi di Indonesia tampaknya harus menyesuaikan juga dengan kebudayaan dan kebiasaan yang dimiliki oleh masyarakat. Jadi istilahnya teknologi yang tercipta bisa mengangkat ketradisionalan Indonesia," katanya.
Namun, dikatakan pula bahwa kebiasaan jelek masyarakat Indonesia sedikit banyak akan mempengaruhi perkembangan iptek di Indonesia. Seperti disebutkannya, penyediaan teknologi seperti internet di Indonesia mewabah karena hanya digunakan sebagai layaknya 'mainan baru' seperti chatting dan akses bahan hiburan lainnya. Sangat sedikit para pengguna jasa internet yang menggunakannya untuk kebutuhan penelitian dan usaha untuk menciptakan inovasi baru dalam berteknologi. "Apalagi menciptakan teknologi yang bermanfaat sosial dan bernilai komersialisasi, masih sangat jarang di Indonesia," ujarnya.
Satu hal yang secara sederhana ditambahkan Heri, "Nira, tumbuhan yang banyak terdapat di Indonesia yang sebenarnya bisa diolah dan dimanfaatkan untuk bahan bakar energi roda empat, malah digunakan kebanyakan orang di Indonesia sebagai alternatif lain minuman keras." Ini pulalah yang menyebabkan mengapa harga 'barang' iptek di Indonesia masih melambung.
"Jika saja banyak yang mau berusaha dan mau berfikir untuk melakukan penelitian baik dari bidang akademisi atau bukan sembari menghilangkan budaya hanya ingin menikmati daripada menciptakan, harga 'barang' iptek tersebut mungkin bisa ditekan karena kita bisa memproduksi sendiri. Melihat seperti ini, mungkin masih pantas jika kembali dipertanyakan siapkah bangsa kita untuk maju di bidang iptek?" ungkapnya. |