Mengenal Jogja & Yogyakarta Lebih dekat. Info Jogja

Mengenal Jogja & Yogyakarta Lebih dekat. Info Jogja

jogja dan semua tentang yogyakarta Halaman Utama | Profil | Kontak
Search :
  Beriklan | Peta Situs
jogja dan semua tentang yogyakarta
jogja dan semua tentang yogyakarta
Jelajah Trulyjogja.com
Wisata  
Wisata kuliner  
Oleh - oleh  
Sosial Budaya  
Universitaria  
Komunitas  
Berita dan Hiburan  
Everyday Life  
Transportasi  
Agenda  
Luar Jogja  
Kolom Komunitas  
Info Extra  
Indie Corner  
Akomodasi  
Media  
Layanan Publik  
Peta Jogja  
Iklan  
Photogallery  
Zodiak  
Forum  
Tips  
 
Index Berita  
 



Layanan Publik
 RS Sarjito 0274 - 587333 
 Polsekta Wirobrajan 0274 - 374832 
 Polsekta Umbul Harjo 0274 - 373916 
 Polsek Depok, Sleman 0274 - 566488 
 RS PKU Muhammadiyah YK 0274 - 512653 
 RS Panti Rapih 0274 - 563333 
 RS Mata Dr.Yap 0274 - 562054 
 RS Bethesda 0274 - 562246 
 SAR DIY 0274 - 562 811 
 Polda DIY 0274 - 563494 
Kalender Agenda
September
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


Agenda Rutin
Everyday Life
Orang Jawa yang Beruntung
"Kemarin pas mau ketemu klien, ban motorku ndadak bocor. Padahal udah ampir telat. Untung aja bocornya nggak jauh dari tukang tambal ban," ujar Tono.

more ]

 
 Ketika hujan dan hawa terasa dingin, Anda lebih suka menyantap...
  
  
  
  
  


 
Mahasiswa Fakultas Pertanian UMY Bangkitkan RI-1 yang Hampir Punah
10/10/2006 11:17

Walaupun hanya tiga butir padi yang diperlihatkan oleh Ir. Gatot Supangkat, MP., Dosen Fakultas Pertanian UMY, cukup mencengangkan dengan warnanya yang lain dari biasanya. Warna yang sama dengan bendera kebangsaan Indonesia merah putih. Sepintas orang akan berfikir bahwa warna tersebut didapatkan dari hasil perkawinan beras merah dan beras putih. Tetapi, jauh dari dugaan, warna tersebut sebenarnya warna natural, sebagaimana biasa berasal dari padi yang tumbuh secara normal.

Dituturkan D. Hartanto, sang pengembangbiak beras dwiwarna tersebut, beras yang kemudian diberinama RI-1 merupakan beras yang berasal dari sekitar abad 12 silam. Bersama temannya Adjikoesoemo (Sarjana Filsafat UGM), Hartanto mendapatkan butiran padi tersebut dari penduduk yang menemukannya di reruntuhan candi yang berlokasi di kawasan Sleman 16 Februari lalu. "Padi yang diserahkan tersebut hanya berjumlah 160 biji. Semula kami tak percaya kalau itu adalah beras jaman dulu, kami belum pernah melihat padi jenis tersebut sebelumnya, maka kami jadi tertarik untuk menguliknya mencari info kesana kemari," jelasnya.

Namun info yang didapatkannya tersebut tidak mencukupi rasa penasarannya karena rata-rata dari mereka mengatakan baru melihatnya kali itu. Tetapi, dari informasi tersebut juga menambah keyakinannya kalau beras tersebut memang benar-benar berusia berabad-abad silam. Ke-160 butir beras itu pun kemudian dipilah-pilah, hingga terpilihlah 120 butir yang dianggap sempurna untuk ditumbuhkan kembali. Penyemaianpun dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan menggunakan media kapas yang dilengkapi dengan hormon pertumbuhan, dan yang kedua, dengan cara membungkus butir padi tersebut dengan kulit gabah rojolele. Kulit gabah tersebut dimaksudkan sebagai cadangan nutrisi beras yang akan ditumbuhkan.

Dari 120 butir beras, yang berhasil berkecambah hanya sekitar 88 butir dan selanjutnya hanya tersisa 7 bibit yang bertahan sampai panen pertama dilakukan, yaitu 5,5 bulan kemudian dengan tinggi batang 130 sentimeter, 2 buah anakan dengan malai yang berukuran 22 sentimeter dan hasil panen yang berupa biji beras merah putih berjumlah sekitar 2400 butir. "Selama penumbuhkembangan padi tersebut tidak ada perlakuan khusus yang diberikan, media pembesar padi setelah disemaikan juga hanya dalam bak dan tanah subur biasa dengan kedalaman tanam sekitar 30 cm. Mungkin karena suhu di Kebon Agung, Sleman, tempat proses penanaman ini juga mendukung," ungkapnya.

Mahasiswa Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian UMY ini juga menjelaskan, peluncuran RI-1 ini sebenarnya telah dilakukan 13 Agustus 2006 lalu, di Alun-Alun Utara, Jogja, yang ditandai dengan pembagian masing-masing 7 butir padi hasil panen pertama kepada 12 petani yang berasal dari tempat yang berbeda-beda dengan maksud untuk dikembangkan. "Sebagian lagi kami simpan untuk dikembangkan kembali," tambahnya.

Mengenai rasanya, ditengah pertemuannya dengan para pimpinan Fakultas Pertanian UMY, Sabtu lalu (7/10), Hartanto mengakui belum bisa memastikan kelezatannya. Tetapi dia mempunyai keyakinan bahwa beras tersebut mempunyai kualitas tinggi. "Usianya saja sudah berabad-abad lalu, terus ditemukan di tempat yang dianggap sakral yang digunakan untuk ritual tertentu sebagai persembahan, biasanya sesuatu benda yang digunakan sebagai persembahan mesti berkualitas yang terbaik," imbuhnya.

Diakhir pembicaraannya Hartanto mengatakan keinginannya untuk terus mengembangkan padi RI-1 tersebut sampai akhirnya menjadi beras yang bisa diunggulkan dan bisa dikonsumsi secara massal. "Membangkitkan sesuatu yang hampir punah merupakan suatu kebanggaan," katanya.

 

 
Berita Terkait :

UMY Bangun Rusunawa Mahasiswa Putera
RPC UMY Sajikan 'Gempa dan Merapi' Untuk Jogja
Penandatanganan Kerjasama UMY-AMCF Uni Emirat Arab
Perkembangan Teknologi Sesuaikan Budaya Masyarakat
Prodi Ilmu Ekonomi FE UMY Raih Akreditasi B
UMY Fasiliasi Info Lapangan Pekerjaan Melalui SMS
Archtectural Institute of Japan Kunjungi UMY
Komakom UMY Gelar "Lokal Abis..."
Pekan Olah Raga dan Seni UMY
Peresmian Gedung Kedokteran Gigi UMY
Peaching Iklan, Parade Iklan UMY
Silaturahmi dan Munas Ke-3 KAUMY, Think Globally and Act Locally
Seminar Internasional Di UMY
Tingkatkan Ketrampilan Hukum: UMY Jalin Kerjasama Dengan STIH Muhammadiyah Kota Bumi Lampung
Indahnya Ramadhan di UMY
Music Holic Engineering Madness 2005
Jambore Teknik UMY 2005
Pelatihan Menghadapi Dunia Kerja di UMY
Workshop Pengembangan Diri di UMY
Pelatihan Guru Agama se-Gunung Kidul
Keutamaan Menuntut Ilmu
Executive Development Program di UMY
Open Recruitment PT. Bukaka di UMY
Ustadz Ja'far Umar Thalib di UMY
Dongeng dari UMY
 
Copyright © 2005 trulyjogja.com .
No part of this content or the data or the image or information included therein may be reproduced, republished or redistributed without the prior written permission of TrulyJogja.com

Mengenal Jogja & Yogyakarta Lebih dekat