Saya semasa kecil bukanlah anak yang akrab dengan jajanan kue cubit. Saya lebih familiar dengan kue lekker atau crepes mini. Bagi sebagian anak-anak di Jakarta atau Jawa Barat mungkin lebih familiar dengan jajanan satu ini.
Kali pertama menemukan warung tenda yang menjual kue tersebut di kawasan Jalan Kaliurang – UGM, saya penasaran mencoba. Saya memilih satu porsi kue cubit original dengan tingkatan tekstur ‘setengah matang’ – konon menjadi level kematangan terbaik untuk menikmati kue ini.
Ketika kue cubit setengah matang hadir, yang nampak adalah serupa kue pukis yang masih mencair adonan-nya ke penjuru piring. Lelehan adonan bagi saya adalah kegagalan dalam membentuk kue yang ‘layak makan’. Rasa tepung, telur, gula dan bahan lainnya berkelebat satu per satu. Bagi saya bukanlah suatu kondisi yang pas untuk sebuah kue cubit yang dimakan seorang first timer seperti saya.
Tapi mungkin lidah saya termasuk lidah yang bukan milik orang kebanyakan, di mana rasa setengah matang yang begitu dipuja dari kue cubit adalah sebuah keharusan yang menyempurnakan sensasi. Ditambah dengan aneka citarasa masa kini yang juga menghadirkan warna-warni cantik dan dilengkapi pula berbagai ‘teman’ yaitu topping untuk melengkapi penyajian kue cubit masa kini.
Adonan kue cubit notabene mirip dengan adonan panekuk hanya saja dicetak dalam ukuran sekali-dua kali gigit. Tentunya tak ada pula gerakan ‘mencubit’ dalam proses kehadiran kue ini sejauh yang saya lihat. Namun kepopuleran kue cubit bukan lagi perkara proses pen’cubit’an adonan atau citarasa asli kue sebagai jajanan nostalgia.
Kini kue cubit beralih pada jajanan populer yang menarik untuk (lagi-lagi) difoto. Keutamaan kehadiran berbagai rasa dan tambahan dalam segigit kue cubit tidak semata pengalaman rasa tetapi juga tampilan yang menarik untuk diunggah ke media sosial.
Rasa asli kue yang dikenal sebagai jajanan sekolahan murah meriah dan enak digeser perlahan dengan kepentingan ekperimental rasa dan warna bagi para penikmatnya yang notabene remaja dan anak-anak muda yang cukup melek teknologi. Meski dibandrol harga di atas rata-rata kue cubit depan sekolahan atau di pasar tradisional, keunikan rasa dan warna menjadi satu poin menarik. Tidak heran jika ratusan foto kue ini bisa kita temukan dengan mudah di instagram atau media-media sosial lainnya.
Meskipun terasa sama saja di lidah saya namun ada saja yang bisa membedakan kue cubit A dengan kue cubit B. Entah itu rasa adonan-nya yang lebih ‘setengah matang’, kuantitas topping yang lebih royal hingga tingkat rona coklat kematangan di tepian kue cubit yang lebih cantik merata – selalu ada perbedaan yang muncul. Entahlah, buat saya semuanya sama saja dan yang terpenting bagi saya: kue cubit harus matang sempurna.
Selamat men’cubit’!
- The Art of Eating Nasi Kotak - September 29, 2015
- Cari Makan Jelang Lebaran - July 16, 2015
- Sahur di Rantau - June 30, 2015
- Takjil dan Rumah - June 23, 2015
- Foodgram: Antara Hobi dan Promosi - June 9, 2015
- Dilanda Kekinian Gelombang Kue Cubit - May 26, 2015
- Jajan via Instagram - May 5, 2015
- Ritual Memotret Makanan - April 22, 2015
- Kota Ribuan Kuliner - April 14, 2015
- Mahasiswa dan Jajan 24 Jam - March 27, 2015